Senin, 19 Januari 2009

Hentikan Israel teidak perlu Obama dan PBB

Untuk kesekian kalinya, sekutu AS, Israel membombardir Palestina. Di negeri yang menyimpan banyak tempat bersejarah kaum Muslim, secara membabi-buta Israel menyerangnya. Tak tanggung-tanggung, Masjid Al Aqsa pun dikepung, hanya wanita dan orang lanjut usia di atas 50 tahun saja yang boleh masuk. Bahkan dalam serangan terakhirnya (3/1) sebelas orang yang tengah salat di sebuah masjid di Beit Lahiya, Gaza, tertimpa rudal Israel.
Kontroversi munculnya Israel sejak awal menggelikan. Negara sekecil itu bisa memiliki kekuatan militer dengan peralatan tempur yang maha dahsyat, yang akhirnya kita bisa tahu bahwa Amerika Serikat-lah yang ada di belakang Israel. AS sebagai negara adi kuasa saat ini tak henti-hentinya menyerang dengan dalih yang sama, terorisme! Bahkan di komentar terbarunya, Presiden Amerika George Bush, mengecam dan meminta Israel untuk segera melakukan gencatan senjata terlebih dahulu. Statemen ini sungguh menggelikan. Bagaimana tidak? Jika almarhum Amrozi cs dituduh teroris karena berjuang atas nama Islam, layaklah Israel dituduh teroris juga.
Dalam tulisan ini, saya sama sekali tidak bermaksud membela Amrozi cs, hanya ingin menertawakan inkonsistensi Amerika Serikat atas tuduhan-tuduhan tak berdasarnya itu. Yang menggelikan lagi, keterpilihan Barrack Husein Obama sebagai Presiden baru AS –yang mengusung slogan pembaruan- juga tak berpengaruh. Buktinya, Israel hingga hari ini tetap mengepung Palestina. Ketika ditanya, juru bicara Obama hanya berujar, “Kita masih terus memantau perkembangan Palestina.” Sampai kapan Palestina akan dipantau? Apakah sampai ribuan nyawa melayang dan peta Palestina menghilang dari bumi, barulah serangan dihentikan?
Serangan Israel yang sporadis benar-benar telah melewati batas. Tempat-tempat bersejarah bagi Kaum Muslim pun diduduki dan membunuh orang yang beribadah di dalamnya. Ini bukan kali pertama dilakukan oleh Israel, namun sudah berkali-kali sejak Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina (tahun 1917 M).

Sebagai catatan akhir, Perdana Menteri Israel setelah Benjamin Netanyahu berturut-turut adalah Ehud Barak, Ariel Sharon, dan yang masih berkuasa di Israel dalam penyerangan di Gaza sekarang adalah Ehud Olmert. Sedangkan 4 faksi utama di Palestina adalah PLO, Al-Fatah, Jihad Islam Palestina (JIP), dan yang berkuasa sekarang di Palestina adalah Hamas dengan Perdana Menterinya Ismail Haniya. Dari peta, kita bisa melihat hilangnya tanah Palestina yang dicaplok oleh Israel sejak tahun 1946 sampai dengan tahun 2000 dan posisi Gaza yang terjepit di daerah kekuasaan Israel.
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) hingga hari ini tidak bisa berbuat banyak. Pasukan perdamaian yang ditempatkan di perbatasan juga tidak bisa meredam aksi brutal Israel, “Si Anak Emas Amerika”. Kini siapa yang bisa menghentikan Israel? Dukungan moral dan darah harus digalang hingga semuanya berakhir dengan damai.

Tidak ada komentar: