Senin, 24 November 2008

Keilmuan di Pesantren Harus Terus Dikembangkan


KH TOLCHAH HASANWakil Rais Aam PBNU, JakartaPesantren itu dunia yang paling sulit untuk distandarisasi keilmuannya. Sebab ada pesantren yanTambah Videog dibentuk setelah adanya pertimbangan yang matang berdasarkan satu visibility study, tetapi juga ada yang dibesarkan karena hobi. Yang kemudian terjadi adalah munculnya masalah pada visi keilmuan pesantren itu sendiri. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren kalau mau dilihat secara keilmuan masih-lah sangat njomplang (timpang - red). Keilmuan di pesantren itu terlalu fiqhiyah, orientasi pada ilmu agama ke fiqh. Jarang sekali yang mendalami keilmuan agama seperti tafsir misalnya, imbuhnya.Di Indonesia ini ada sekian ribu madzhab tahfidzul Quran. Tapi sampai pada hari ini, hanya terbatas pada tahfidz. Tidak ada dari sekian ribu itu yang mengembangkan keilmuannya lebih lanjut, menjadi tafhimul Qur?an. Saya melihat contohnya di Sudan, di sana sudah ada Jami?ah al-Qur?anul Karim. Itu yang S3-nya Jami?ah al-Qur?anul Karim ini, asbabun nuzul itu sudah dihafal di luar kepala. Mengapa di Indonesia tidak bisa? Saya sudah berbicara dengan kiai-kiai tahfidzul Quran, kenapa tidak melakukan asosiasi? Yang salah satunya nanti diangkat menjadi pesantren tahfidzul Qur?an lanjutan. Sehingga mempelajari ulumul Quran tidak terbatas pada tartil dan tahfidz, sampai pada ilmu-ilmu Quran semisal asbabun nuzul dan juga yang lain. Sehingga Indonesia memilki ahli-ahli al-Qur?an yang bagus. Sambungnya.Misalnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang sudah melahirkan seorang ahli fisika yang juga hafal Al-Quran. Suruh meneruskan saja itu, studi Al-Quran dalam bidang fisika. Ini yang namanya Islamisasi keilmuan. Sehingga kita nanti memiliki seorang ahli al-Qur?an yang paham fisika di dalam Al-Quran. Tapi kita miskin dalam hal gagasan-gagasan semacam ini. Hampir 800 ayat Al-Quran yang mengandung masalah sains, tapi sampai hari ini di Indonesia itu belum ada satu pun tafsir tentang sains. Dulu pada masa Presiden Habibie, kami pernah mengusulkan untuk membentuk satu tafsir tematik Al-Quran ini. Tafsir mengenai politik, tafsir mengenai ekonomi, juga tafsir sains. Sayang di Indonesia ini kalau sudah ganti menteri maka ganti kebijakan. Gagasnya. Oleh karena itu, mengapa visi keilmuan kita tidak pernah menjadi guru di dunia, karena memang keilmuan kita banyak yang nanggung. Demikian juga dengan referensi bahan bacaan dan fasilitas kita itu terbatas sekali jenisnya maupun jumlahnya. Tafsir yang disediakan di pesantren itu paling banyak hanya tafsir Jalalain. Untung kalau ada misalnya Tafsir ibn Katsir atau tafsir Ibn Qayim. Tafsir yang lain yang termasuk kuning, itu hampir-hampir tidak terbaca.Dulu waktu nyantri di pondok Tebuireng Jombang, al-Kutubus sittah itu dibaca. Dan ijazah tanpa kertas, ijazah safahiyah dari kiai yang mengajarkan pada santri yang mengaji itu. Masalah sanad minal muallif itu jelas. Riwayat guru mengajar murid sampai pada muallif itu ada. Dan sekarang kiai yang baca ini tidak ada.Memang pesantren sekarang ini berkembang. Jumlahnya tambah dan gedungnya bagus-bagus, tapi dari segi kualitas ini mengalami semacam penurunan. Saya masih mengaji pada Mbah Idris atau KH Idris (Tebuireng), sekali dalam seminggu, selama tiga jam dan itu mengaji tiga tafsir sekaligus. Tafsir ibn Qayim, tafsir Baidhawi, dan Tafsir Ibnu Katsir. Sembilan santrinya disuruh membaca sendiri sampai selesai. Tapi kadang, baru setengah jam saja, beliau sudah memberi komentar panjang lebar. Di pesantren kita itu, kebanyakan tidak seimbang antara pengajian fiqh dan ushul fiqhnya. Fiqihnya sudah Fathul Wahhab, ushulnya baru waraqat. Ini tidak pas. Sehingga pemahaman fiqh hanya sebagai produk tidak sebagai proses. Dari sini dapat dilihat bahwa memang pembacaan pada kitab memang kurang. Kitab bagus semisal karya Said Ramadhan al-Buthi, Dhawahibul Maslahat fi Syar?i Islamiyah, kitab semacam ini sama sekali tidak terbaca. Padahal, bila kita buka apa yang ditulis Said Ramadhan, Ibrahim Sulaiman, ini salafi semua. Mengutip dan menguraikan pendapat-pendapat ulama dahulu.Saya mengusulkan, perlunya pengayaan keilmuan di pesantren kalau kita mau mengembangkan pesantren adalah hal yang wajib. Kalau kita mau memperluas cakrawala keilmuan betul-betul dapat diwujudkan. Dan saya mengusulkan bantuan pada pesantren itu bukan dalam bentuk bangunan atau komputer, tapi buatlah perpustakaan yang dapat diakses para santri. Bukan hanya diakses oleh kiai. Sebab kalau perpustakaan itu ada di rumah kiai, maka santri tidak berani masuk. Jadi kiainya yang semakin pintar, sedangkan santrinya tidak. Karena memang kebanyakan perpustakaan di pesantren itu ada di rumah kiai. Padahal ini merupakan satu bagian bentuk penambah dan pembuka cakrawala wawasan santri. Apakah itu perpustakaan dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk digital.Untuk betul-betul memahami agama tidak hanya melalui pembelajaran ilmu agama, tetapi juga harus ada sisi lain yang dilakukan, pengalaman beragama. Pendidikan agama yang kita kembangkan sekarang ini hanyalah pembelajaran ilmu agama. Tapi bukan pengembangan pengalaman agama. Menurut saya, amal-amal yang menjadi bagian-bagian pengalaman keagamaan menentukan sekali kualitas pesantren kita. Banyak sekali misalnya, orang-orang yang pandai sekali berdalil, namun, sekedar dalil untuk mendalili orang lain, dia tidak pernah melakukan apa yang diperintahkannya pada orang lain.Oleh karena itu, saya menganjurkan agar gus-gus dari pesantren itu meningkatkan kemampuan mereka dengan menimba ilmu sebanyak mungkin. Dan dari pembicaran kami, Menteri Agama kemarin menjanjikan akan ada 10 tempat yang akan disediakan bagi para gus-gus dari pesantren untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri. Dan tentunya ini memakai seleksi. Saya usulkan minimal S2, kalau bisa S3. Apa kepentingannya? Pertama, agar supaya memperluas wawasan keilmuan Islam saat ini. Kedua, agar memiliki kredibilitas di kalangan pesantren. Dan ketiga, agar memiliki perbandingan antara pesantren di Indonesia dan di luar. Ini beberapa hal yang ingin kita sampaikan, agar dunia pesantren kita memiliki citra kegemilangannya. []*) Materi disampaikan pada Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta, Ahad (26/10), diadakan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI.

Golput Haram, kata PKNU


Bandung (ANTARA News) - Sekjen Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) Idham Khalid, menegaskan, Golput (golongan putih atau tidak memilih) adalah haram, dan para kader PKNU harus menjelaskan masalah ini kepada masyarakat.Menggunakan hak pilih dalam Pemilu sesuai dengan pilihannya adalah untuk keberlangsungan kehidupan bernegara, katanya, pada Musyawarah Kerja Wilayah PKNU Jawa Barat, Rabu, di Bandung.Dikatakannya bahwa Golput ada dua macam, yakni mereka yang tidak terdaftar sebagai pemilih dan mereka yang apatis terhadap partai politik (Parpol) sehingga menjadi Golput.Untuk yang Golput karena dirinya tidak terdaftar sebagai pemilih, maka para kader PKNU harus memantau dan memberi tahu kepada yang bersangkutan dan bahkan menolong ikut menguruskan sehingga yang bersangkutan terdaftar menjadi pemilih.Sedangkan bagi mereka yang apatis terhadap Parpol, Sekjen DPP PKNU menyebutkan bahwa sikap apatis tersebut bukan ditunjukkan kepada partai-partai baru seperti PKNU, tetapi kepada partai lama.PKNU adalah partai Islam Ahli Sunah wal Jamaah, partai baru yang belum punya kiprah dalam percaturan politik di Indonesia, sehingga sikap apatis tidak akan ditujukkan kepada PKNU, katanya. Untuk itu, ia meminta seluruh pengurus partai di seluruh tingkatan bekerja keras menghadapi Pemilu 2009 mendatang supaya bisa menghasilkan target secara maksimal.Sementara itu, Ketua Dewan Syuro DPP PKNU KH Abdurrahman Khudori, menegaskan, berpolitik penting bagi kelangsungan kehidupan bernegara.Dengan berpolitik maka aspirasi umat akan tersalurkan melalui para wakilnya di pemerintahan, katanya.Untuk itu ia minta para calon legislatif dari PKNU harus benar bersih dan tidak korup, sehingga nantinya tidak menimbulkan masalah. PKNU adalah partai Islam Ahli Sunnah wal Jamaah, karena itu tidak layak PKNU memiliki calon wakil rakyat yang korup, katanya.Muskerwil PKNU Jawa Barat diikuti seluruh pengurus DPC kota dan kabupaten di Jawa Barat dalam rangka pemantapan dan konsolidasi dalam menghadapi Pemilu 2009.(*)
COPYRIGHT © 2008

Minggu, 23 November 2008

SUMPAH CALEG PKNU TIDAK KKN

JAKARTA - Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU) menyumpah calon anggota legislatifnya untuk tidak melakukan tindak pidana korupsi. Sumpah antikorupsi ini didahului dengan bacaan basmallah dan kalimat sahadat. "Saya berjanji tidak akan melakukan korupsi dan perbuatan tercela lainnya serta tidak menerima hadiah dalam bentuk apapun dalam kaitannya dengan tugas saya sebagai wakil rakyat," ujar KH Ubadillah Faqih saat membimbing para caleg dalam membaca sumpah (baiat) di Tennis Indoor Senayan, Minggu (23/11).
Jika mereka melanggar, PKNU akan bertindak tegas dengan mendepak anggota legislatif tersebut. PKNU juga akan menyerahkan pelakunya ke penegak hukum untuk mendapatkan sanksi menurut peraturan perundangan yang berlaku.
Ketua Umum Dewan Tanfidz PKNU, Choirul Anam mengatakan partai tersebut didirikan dan beranggotakan para ulama. Menurut dia, ulama itu tidak boleh berada di dekat barang kotor. "Jika ada yang melanggar, bukan penegak hukum yang pertama bertindak, tapi PKNU!" katanya.
Selain itu, PKNU juga membaiat caleg-nya agar bersungguh-sungguh dan maksimal melaksanakan kewajibannya sebagai wakil rakyat. Para caleg juga harus berjanji memajukan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di daerah pemilihannya.

PARTAI KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA`

PARTAI KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA`
(KEKUATAN POLITIK KULTURAL NAHDYIN)
Oleh Ahmad Ngalawi
Wakil Sekretaris DPC PKNU Kota Bontang

Pluralitas politik pada kaum nahdiyin dalam kehidupan berpolitik yang ada di jamiyah NU memang sungguh tak bisa terelakkan, ada yang menyebut bukan lagi pluralitas politik melainkan sebagai stratifikasi (pelapisan) politik, Nahdyin tidak semata harus menyalurkan aspirasi politiknya lagi pada PKB saja yang mana proses kelahirannya memang dibidani oleh PBNU, akan tetapi harapan akan PKB sebagai salah satu partai yang bisa dijadikan satu-satunya aspirasi partai politik kaum nahdyin ternyata gagal total dimana hal ini bisa dindikasikan dengan harapan untuk menjadikan NU garis miring PKB ternyata berbadning lurus dengan PKB garis miring Gus Dur.

Lantas Benarkah di dalam tubuh nahdyin sedang terjadi pelapisan yang cenderung sebagai bentuk lain dari disparitas politik? atau benarkah kader-kader nahdyin telah menapak demikian jauh kearah politik praktis dan kekuasaan, sehingga melupakan darimana ? NU ? kita berasal.
Nahdyin yang disebut jumlahnya berpuluh-puluh juta ? kalau kita simak akhir-akhir ini telah menapak begitu jauh pada langkah atau pola politik praktis pada kekuasaan. Nahdyin sudah bertransformasi pemikiran politik dari mulai sebagai obyek menjadi subjek. Hal ini pernah teringat terus dalam benak kita dimana salah satu putra terbaik nahdyin yang begitu cerdas dan alim serta berkat do`a dan restu para kiyai telah mampu menjadi pemimpin puncak negri kita Indonesia. Dimana ia begitu konsisten dalam memperjuangkan arah demokrasi yang substansial bukan hanya sekedar formalitas atau sampul teknis demokratis.

Hal diatas adalah salah satu contoh kecil dari keadaan yang sekarang terjadi dimana kita tidak akan sulit menemui calon petinggi politik dalam birokrasi pemerintahan kita dari para nahdyin. Ini adalah raelita dan benar adanya dan tak sedikit begitu banyak nahdyin mendirikan partai politik , sebut saja tak kurang dari PPP, PKB,PNU,PPNUI dan PKNU adalah bentuk nyata dari makin melangkah jauhnya nahdyin dalam alam poltik praktis.

Apapun bentuknya nahdyin tetaplah nahdyin tapi dari berbagai partai yang didirikan orang nahdyin ada satu partai baru yang akan ikut dalam konstelasi Pemilu 2009 yang kalau ditilik dari para pendirinya adalah para kiyai pesantren yang sudah tidak asing lagi dimata, telinga dan hati nahdyin, partai yang dideklarisakan pada tanggal 21 Nopember 2006 di Pondok Pesantren Langitan dan oleh para deklaratornya yang nota beni para kiyai kharismastik dan mempunyai tratah kekiyaian yang begitu mempuni ini menyebut partai ini Partai Kebangkitan Ulama Nasional (PKNU).

Partai yang kabarnya akan menjadi rival berat PKB ini sangatlah unik dan menarik untuk dibicarakan, dari situlah kiranya penulis akan mencoba membaca PKNU sebagai partai yang dilahirkan oleh nahdyin cultural bukan nahdyin structural tak bedanya dengan PKB.

Sejarah PKNU akan mencoba meruntut dan menapak tilas dengan NU dimana sejarah mencatat bahwa NU lahir dalam perjuangan panjang para ulama` dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.

PKNU yang nota beni partai yang didirikin nahdyin cultural ini didesian sebagai Kebangkitan Ulama kedua untuk menyelamatkan Negara kita dari bahaya radikalisme agama yang akhir-akhir ini sudah mulai mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menyelamatkan Islam Aswaja dari paham-paham fundalis dan anarkis yang mengatasnamakan agama.

Disinilah letak perbedaan PKNU dengan partai orang nahdyin lainnya. Da`wah bisiasah dengan menitik beratkan akhlakul karimah dan hati nurani kiranya dapat dan bisa mejadi counter attack dari paham tersebut.

Lantas mampukah PKNU mengemban tugas maha berat ini dan mencapai perkembangan dengan cepat dan adaptif terhadap segala permasalahan bangsa yang begitu ruwet dan tak kunjung keluar dari kubangan krisis multidimensi ini.

PKNU yang noto beni sebagai kekuatan kultural warga NU memang tidak bisa dianggap enteng apalagi remeh oleh mereka-mereka yang sudah terbiasa dengan gerbong struktural dan modernitas NU. Bahwa mereka sadar betul bahwa gerbong modernits ini akan bisa meluncur deras dalam kesesatan bahkan kehancuran. Manakala kekuatan kultural ini tidak mau mengimbangi dengan kekuatan sosial politk keagamaan yang selalu menawarkan dan menyegarkan.

Kalau PKNU mengambil jalan kultural untuk mengembangkan dirinya berarti PKNU paham betul bahwa untuk menjaga keseimbangan dalam merajut perbedaan generasi dan pola pikir untuk diperbedakan, akan tetapi dijadikan sebuah kekuatan yang terintegritas dan terkonvergensi, sehingga ketika arus deras kekuatan global modernis yang cenderung pada politik yang permisif menyerang dan menjajah kehidupan bangsa dan rakyat, maka dengan lantang dan gagah berani PKNU akan selalu ada dalam jalan dan identitas yang jelas yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan.

Identitas menegakkan kebenaran dan keadilan adalah barang yang langka dalam negri ini. Beda dengan ? kebenaran dan keadilan identitas ? kartu PKNU bukan ditemukan dalam diri seseorang sebagai menegakan kebenaran dan keadilan identitas ? saat kader PKNU diverifikasi menjadi salah satu pejabat publik, baik itu legislatif, eksekutif, atau yudikatif sudahkah kebenaran identitas PKNU itu menjadi identitasnya yang benar yaitu penegak kebenaran dan keadilan.