PARTAI KEBANGKITAN NASIONAL ULAMA`
(KEKUATAN POLITIK KULTURAL NAHDYIN)
Oleh Ahmad Ngalawi
Wakil Sekretaris DPC PKNU Kota Bontang
Pluralitas politik pada kaum nahdiyin dalam kehidupan berpolitik yang ada di jamiyah NU memang sungguh tak bisa terelakkan, ada yang menyebut bukan lagi pluralitas politik melainkan sebagai stratifikasi (pelapisan) politik, Nahdyin tidak semata harus menyalurkan aspirasi politiknya lagi pada PKB saja yang mana proses kelahirannya memang dibidani oleh PBNU, akan tetapi harapan akan PKB sebagai salah satu partai yang bisa dijadikan satu-satunya aspirasi partai politik kaum nahdyin ternyata gagal total dimana hal ini bisa dindikasikan dengan harapan untuk menjadikan NU garis miring PKB ternyata berbadning lurus dengan PKB garis miring Gus Dur.
Lantas Benarkah di dalam tubuh nahdyin sedang terjadi pelapisan yang cenderung sebagai bentuk lain dari disparitas politik? atau benarkah kader-kader nahdyin telah menapak demikian jauh kearah politik praktis dan kekuasaan, sehingga melupakan darimana ? NU ? kita berasal.
Nahdyin yang disebut jumlahnya berpuluh-puluh juta ? kalau kita simak akhir-akhir ini telah menapak begitu jauh pada langkah atau pola politik praktis pada kekuasaan. Nahdyin sudah bertransformasi pemikiran politik dari mulai sebagai obyek menjadi subjek. Hal ini pernah teringat terus dalam benak kita dimana salah satu putra terbaik nahdyin yang begitu cerdas dan alim serta berkat do`a dan restu para kiyai telah mampu menjadi pemimpin puncak negri kita Indonesia. Dimana ia begitu konsisten dalam memperjuangkan arah demokrasi yang substansial bukan hanya sekedar formalitas atau sampul teknis demokratis.
Hal diatas adalah salah satu contoh kecil dari keadaan yang sekarang terjadi dimana kita tidak akan sulit menemui calon petinggi politik dalam birokrasi pemerintahan kita dari para nahdyin. Ini adalah raelita dan benar adanya dan tak sedikit begitu banyak nahdyin mendirikan partai politik , sebut saja tak kurang dari PPP, PKB,PNU,PPNUI dan PKNU adalah bentuk nyata dari makin melangkah jauhnya nahdyin dalam alam poltik praktis.
Apapun bentuknya nahdyin tetaplah nahdyin tapi dari berbagai partai yang didirikan orang nahdyin ada satu partai baru yang akan ikut dalam konstelasi Pemilu 2009 yang kalau ditilik dari para pendirinya adalah para kiyai pesantren yang sudah tidak asing lagi dimata, telinga dan hati nahdyin, partai yang dideklarisakan pada tanggal 21 Nopember 2006 di Pondok Pesantren Langitan dan oleh para deklaratornya yang nota beni para kiyai kharismastik dan mempunyai tratah kekiyaian yang begitu mempuni ini menyebut partai ini Partai Kebangkitan Ulama Nasional (PKNU).
Partai yang kabarnya akan menjadi rival berat PKB ini sangatlah unik dan menarik untuk dibicarakan, dari situlah kiranya penulis akan mencoba membaca PKNU sebagai partai yang dilahirkan oleh nahdyin cultural bukan nahdyin structural tak bedanya dengan PKB.
Sejarah PKNU akan mencoba meruntut dan menapak tilas dengan NU dimana sejarah mencatat bahwa NU lahir dalam perjuangan panjang para ulama` dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.
PKNU yang nota beni partai yang didirikin nahdyin cultural ini didesian sebagai Kebangkitan Ulama kedua untuk menyelamatkan Negara kita dari bahaya radikalisme agama yang akhir-akhir ini sudah mulai mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menyelamatkan Islam Aswaja dari paham-paham fundalis dan anarkis yang mengatasnamakan agama.
Disinilah letak perbedaan PKNU dengan partai orang nahdyin lainnya. Da`wah bisiasah dengan menitik beratkan akhlakul karimah dan hati nurani kiranya dapat dan bisa mejadi counter attack dari paham tersebut.
Lantas mampukah PKNU mengemban tugas maha berat ini dan mencapai perkembangan dengan cepat dan adaptif terhadap segala permasalahan bangsa yang begitu ruwet dan tak kunjung keluar dari kubangan krisis multidimensi ini.
PKNU yang noto beni sebagai kekuatan kultural warga NU memang tidak bisa dianggap enteng apalagi remeh oleh mereka-mereka yang sudah terbiasa dengan gerbong struktural dan modernitas NU. Bahwa mereka sadar betul bahwa gerbong modernits ini akan bisa meluncur deras dalam kesesatan bahkan kehancuran. Manakala kekuatan kultural ini tidak mau mengimbangi dengan kekuatan sosial politk keagamaan yang selalu menawarkan dan menyegarkan.
Kalau PKNU mengambil jalan kultural untuk mengembangkan dirinya berarti PKNU paham betul bahwa untuk menjaga keseimbangan dalam merajut perbedaan generasi dan pola pikir untuk diperbedakan, akan tetapi dijadikan sebuah kekuatan yang terintegritas dan terkonvergensi, sehingga ketika arus deras kekuatan global modernis yang cenderung pada politik yang permisif menyerang dan menjajah kehidupan bangsa dan rakyat, maka dengan lantang dan gagah berani PKNU akan selalu ada dalam jalan dan identitas yang jelas yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan.
Identitas menegakkan kebenaran dan keadilan adalah barang yang langka dalam negri ini. Beda dengan ? kebenaran dan keadilan identitas ? kartu PKNU bukan ditemukan dalam diri seseorang sebagai menegakan kebenaran dan keadilan identitas ? saat kader PKNU diverifikasi menjadi salah satu pejabat publik, baik itu legislatif, eksekutif, atau yudikatif sudahkah kebenaran identitas PKNU itu menjadi identitasnya yang benar yaitu penegak kebenaran dan keadilan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar